Tips Cerdas Gen Z untuk Jual-Beli Batu Akik dan Raih Keuntungan dengan Tenang

Posted on


Priangan Insider –

Tersembunyi di balik popularitas crystals healing, gaya busana bekas, dan seni digital, batu akik kembali dengan cara yang mengejutkan, dan generasi Z menjadi pusat perhatian dalam fenomena ini.

Tidak hanya untuk dipajang berdasarkan nilai estetika atau kekuatan spiritualnya, tetapi juga untuk dijual kembali menggunakan strategi digital yang semakin canggih.

Ya, batu akik kini tak hanya menjadi perhatian bapak-bapak di pos ronda.

Generasi Z sudah mengerti bahwa bermain di dunia akik tidak hanya tentang “kualitas serat” dan “warna mencolok”, tetapi juga cerita, atmosfer, serta branding digital yang solid.

Jika kamu termasuk Generasi Z yang ingin memasuki industri perdagangan batu akik, entah untuk koleksi pribadi ataupun mendapatkan keuntungan melalui Shopee dan TikTok, berikut adalah panduan bertahan serta strategi agar tidak melakukan kesalahan fatal.


Paham Dulu, Baru Mantap: Mengenal Sebelum Menawarkan

Pertama-tama, jangan buru-buru mengakui diri sebagai penjual jika masih bingung dengan produknya.

Sungguh, batu akik memiliki beragam jenis mulai dari Bacan, Kecubung, Sulaiman, hingga Combong.

Setiap individu memiliki kepribadian, tempat asal, serta aura yang diyakini unik masing-masing.

Saran saya, bergabung dengan komunitas digital seperti grup Facebook, server Discord, atau even langsung di TikTok Live dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif.

Dimulai dengan 3 tipe batu yang umum dan mudah untuk dijual kembali (seperti contohnya Bacan, Kecubung, dan Sulaiman).

Memahami nilai sebuah batu tidak hanya tergantung pada ukuran dan warnanya, tetapi juga pada seratnya, tingkat kejernihannya, serta energi yang diyakini melekat padanya.


Uang Tak Harus Besar, Selama Jago Memilih Suplier

Gak perlu memiliki modal jutaan untuk memulainya.

Sangat banyak pembuat batu alam lokal di wilayah-wilayah seperti Garut, Pacitan, atau Halmahera yang menawarkan material atau produk akhir dengan harga terjangkau.

Saran saya adalah mencari supplier lokal melalui platform Marketplace ataupun Instagram.

Pertama-tama tanyakan apakah batu itu alami atau hasil pengolahan?

Periksa kesaksian, tonton videonya yang asli, dan jangan ragu untuk menegosiasikan harga.

Apabila memungkinkan, belilah langsung dari para pembuatnya, selain lebih ekonomis, kamu pun turut mendukung Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).


Rancang Cerita, Bukan Hanya Deskripsi

Generasi Z membeli berdasarkan ikatan emosional, tidak hanya “berWarna ungu, diameternya 2 cm, dengan harga 250ribu.”

Ubah deskripsi jualan lo jadi cerita.

Contoh:


Batuan Sulaiman ini memiliki garis alamiah seperti gelombang air yang tenang. Menurut kabarnya, tempat ini pas untuk kamu yang sedang mencari jalan dalam hidup dan membutuhkan getaran stabil agar lebih terfokus.
.”

Tipsnya tambahin info tentang energi batu, asal daerah, dan cocok buat siapa.

Tidak perlu khawatir menggunakan istilah-istilah kekinian yang sesuai.

Cerita ditambah gaya hasilnya luar biasa!


Gunakan Platform yang Cocok untuk Generasi Z

Jika Anda hanya menjual batu akik melalui status WhatsApp saja, mungkin sudah waktunya untuk meningkatkan strategi penjualan.

Gen Z belanjanya di,

  • TikTok Shop: Siarankan langsung bersama pengikutmu sambil membahas aspek menariknya.
  • Instagram Reels & Highlight: Perlihatkan detil dekat serta tahap pengemasan.
  • Shopee / Tokopedia: Cocok untuk melakukan transaksi resmi dan menjangkau pelanggan di luar lingkaran kenalanmu.
  • Twitter/X dan Discord: Sesuai untuk berdiskusi, membentuk komunitas spesifik, serta mengadakan lelang sehari-hari.

Gambaran Itu Kritis, Tampilan Perlu Indah dan Otentik

Batunya sangat menarik secara visual.

Jadi pastikan tampilan feed kamu keren!

Sarannya adalah menggunakan pencahayaan alami, latar belakang yang sederhana, serta mengambil sudut foto makro (dekat pada tekstur).

Sertakan video slow-mo biar terlihat efek kilap dan serat dalam.

Berikan “swipe before-after” antara batu mentah dan yang telah dihaluskan untuk meningkatkan kepercayaan.


Kejelasan Agar Tak Disebut Palsu

Jangan menjual batu yang tidak asli atau klaim daya tarik berlebihan.

Generasi Z sangat mahir dalam mengenali keaslian sesuatu, dan informasi palsu dapat menyebar dengan cepat—dalam cara yang buruk.

Tipsnya

  • Pastikan selalu menulis dengan jelas apakah itu batu alami, buatan secara sintetik, atau diolah.
  • Berikan sertifikat dari pembuatnya atau lakukan pengecekan laboratorium bila diperlukan (khususnya untuk batu yang harganya tinggi).
  • Buka sesi Tanya Jawab di bagian komentar agar potensial pembeli mengetahui bahwa Anda siap mendengarkan dan memberikan pendidikan.


Pembangunan Merek Pribadi: Meskipun Anda Menjual Batu, Tetap Jual Diri Sendiri juga

Mereka membeli dari kamu tidak hanya karena kualitas batuannya, tetapi juga karena mereka menyukai cara kamu menjualnya.

Silakan ciptakan branding seperti berikut:

  • Nama lapak: “Kesan Lokal,” “Nyanyi Kicau,” atau “Jejeran Jiwa.”
  • Desain logo sederhana + kemasan ramah lingkungan yang dapat dijadikan materi unboxing.
  • Sertakan kartu mini di setiap paket yang berisi nama batu, energi dari batu tersebut, serta pesan inspiratif.


Bukan Sekadar Cuan: Bangun Komunitas, Bukan Hanya Customer

Loyalitas tidak terletak pada pembelian satu kali saja, tetapi pada perjalanan bersama kamu.

Biarkan mereka merasa terlibat.

Caranya,

  • Buatin materi pendidikan: “Tutorial Membersihkan Batu”, “Macam-macam Batu berdasarkan Zodiak”, atau “Pengalaman Storytime untuk Penjualan Pertama”.
  • Undang para pengikutmu untuk mengirim kesaksian dan ulasan sambil menyertakan tag akun mu.
  • Berkadang selenggarakan pemberian hadiah gratis, atau berikan potongan harga khusus untuk para pengikut setia.

Penjualan batu akik untuk Generasi Z tidak hanya berfokus pada keuntungan finansial atau mengikutinya karena mitos mistis.

Ini berkaitan dengan metode baru untuk meremajakan tradisi lewat penyegaran desain kemasan yang kontemporer.

Dari prasasti batu hingga tampil di TikTok, dari pasar tradisional menuju dunia digital, semuanya mungkin jika Anda memiliki niat, konsistensi, serta gaya unik tersendiri.

Jadi, lo siap ngakik sambil naik kelas? (***)