Ada masa ketika dagangan terasa ramai.
Pesanan masuk hampir setiap hari. WhatsApp berbunyi. Ada pelanggan baru. Barang yang disiapkan pagi sudah berkurang sebelum sore.
Tetapi ada juga masa sebaliknya.
Seharian menunggu, tidak banyak yang bertanya.
Posting sudah dilakukan. Status WhatsApp sudah dibuat. Harga sudah ditawarkan. Tetapi pembeli tetap belum banyak.
Pada kondisi seperti ini, sebagian pelaku usaha langsung berpikir:
“Mungkin usaha saya memang tidak cocok.”
Padahal belum tentu.
Dagangan yang sedang sepi tidak otomatis berarti usaha tersebut gagal. Bisa jadi ada beberapa hal yang perlu diperbaiki.
Dan menariknya, masalahnya tidak selalu terletak pada produk.
1. Coba Lihat Lagi Siapa yang Menjadi Target Pembeli
Ini sering dianggap sepele.
Kita menjual produk, tetapi tidak benar-benar tahu siapa yang paling membutuhkan produk tersebut.
Misalnya menjual perlengkapan rumah tangga.
Tentu saja pasarnya luas.
Tetapi ketika membuat promosi, akan lebih mudah jika kita tahu apakah produk tersebut ditujukan untuk ibu rumah tangga, penghuni kos, pemilik usaha makanan, atau pelaku UMKM.
Semakin jelas calon pembelinya, semakin mudah menentukan cara menawarkan produk.
Daripada mengatakan:
“Produk bagus, harga murah, silakan beli.”
Lebih baik menjelaskan masalah yang bisa diselesaikan produk tersebut.
Orang biasanya lebih tertarik pada solusi daripada sekadar melihat barang.
2. Bisa Jadi Orang Belum Tahu Anda Berjualan
Ada orang yang mengatakan:
“Saya sudah jualan dua bulan, tetapi sepi.”
Ketika ditanya bagaimana promosinya, ternyata hanya beberapa kali membuat posting.
Kemudian menunggu pembeli datang.
Padahal orang tidak mungkin membeli sesuatu yang tidak mereka ketahui.
Promosi tidak harus selalu membayar iklan.
Bisa dimulai dari hal sederhana:
- status WhatsApp,
- grup komunitas yang relevan,
- konten edukasi,
- foto produk,
- cerita di balik usaha,
- testimoni pelanggan,
- atau artikel yang membantu orang menemukan produk kita melalui Google.
Yang penting dilakukan secara konsisten.
3. Jangan Hanya Posting Saat Ingin Jualan
Ini kebiasaan yang sering terjadi.
Ketika stok menumpuk, kita mulai rajin posting.
Ketika stok mulai habis, posting berhenti.
Padahal pelanggan membutuhkan waktu untuk mengenal sebuah usaha.
Coba sesekali buat konten yang tidak langsung menawarkan produk.
Misalnya kalau menjual perlengkapan butik:
“Apa saja perlengkapan yang biasanya dibutuhkan saat membuka butik?”
Kalau menjual makanan:
“Bagaimana cara menyimpan makanan agar tetap enak?”
Kalau menjual jasa bengkel:
“Apa tanda-tanda kendaraan perlu segera diservis?”
Konten seperti ini membuat orang mengenal kita sebagai orang yang memahami bidang tersebut, bukan hanya sebagai penjual.
4. Periksa Kembali Harga
Harga memang bukan satu-satunya alasan pelanggan membeli.
Tetapi tetap perlu diperiksa.
Coba bandingkan harga Anda dengan beberapa penjual lain.
Bukan untuk selalu menjadi yang termurah.
Perhatikan:
- kualitas produk,
- ukuran,
- kemasan,
- pelayanan,
- ongkos kirim,
- bonus,
- dan nilai lain yang diberikan.
Kalau harga lebih tinggi, pastikan pelanggan mempunyai alasan yang jelas mengapa mereka memilih Anda.
Dan kalau harga terlalu murah, pastikan usaha tetap mendapatkan keuntungan.
Jangan sampai dagangan ramai tetapi modal perlahan habis.
5. Perhatikan Foto dan Informasi Produk
Pelanggan online tidak bisa memegang barang yang kita jual.
Mereka hanya melihat foto dan membaca informasi.
Kalau fotonya gelap, kurang jelas, atau produk sulit dibedakan, calon pembeli bisa pergi begitu saja.
Tidak perlu kamera mahal.
Gunakan cahaya yang baik.
Bersihkan produk.
Ambil foto dari beberapa sisi.
Kemudian berikan informasi yang benar-benar dibutuhkan pembeli.
Misalnya:
Ukuran:
Bahan:
Isi:
Warna:
Kegunaan:
Harga:
Semakin mudah orang memahami produk, semakin mudah mereka mengambil keputusan.
6. Jangan Mengabaikan Pelanggan Lama
Ketika dagangan sepi, kita sering sibuk mencari pelanggan baru.
Padahal mungkin ada puluhan orang yang pernah membeli.
Coba lihat kembali daftar pelanggan.
Hubungi beberapa orang secara baik-baik.
Bukan langsung:
“Mau order lagi?”
Lebih baik:
“Halo Pak/Bu, semoga sehat. Kami ingin menanyakan apakah produk yang dulu dibeli masih cocok digunakan. Kalau ada masukan, kami sangat terbuka.”
Percakapan seperti ini bisa menghasilkan sesuatu yang tidak kita duga.
Pelanggan mungkin memang belum membutuhkan produk lagi.
Tetapi mereka bisa memberikan masukan.
Atau bahkan mengatakan:
“Kebetulan saya memang sedang membutuhkan lagi.”
7. Jangan Terlalu Cepat Menyerah
Ini mungkin bagian yang paling sulit.
Ketika usaha sepi selama beberapa hari, pikiran mulai ke mana-mana.
Melihat toko orang lain ramai.
Melihat orang lain mendapatkan banyak pesanan.
Kemudian membandingkan diri sendiri.
Padahal kita tidak pernah tahu proses panjang yang sudah mereka lewati.
Usaha memang tidak selalu naik setiap hari.
Ada hari ramai.
Ada hari biasa.
Ada hari sepi.
Yang penting adalah melihat tren dalam jangka lebih panjang, bukan hanya kondisi satu atau dua hari.
Kalau sepi terus selama beberapa bulan, tentu perlu evaluasi lebih serius.
Tetapi kalau hanya beberapa hari, jangan langsung mengambil keputusan besar.
Coba Lakukan Evaluasi Sederhana Hari Ini
Kalau usaha Anda sedang sepi, ambil kertas.
Kemudian jawab lima pertanyaan:
1. Siapa pelanggan saya?
2. Masalah apa yang saya bantu selesaikan?
3. Apakah orang sudah mengetahui usaha saya?
4. Apakah harga dan kualitas saya masuk akal?
5. Apa yang bisa saya perbaiki minggu ini?
Jangan mencari sepuluh masalah sekaligus.
Pilih satu masalah yang paling penting, kemudian perbaiki.
Minggu berikutnya evaluasi lagi.
Begitulah usaha berkembang.
Bukan karena semuanya langsung sempurna, tetapi karena sedikit demi sedikit diperbaiki.
Dagangan Sepi Bisa Menjadi Kesempatan
Kadang masa sepi justru memberikan waktu kepada pemilik usaha untuk melakukan hal-hal yang sering terlupakan ketika pesanan sedang banyak.
Memperbaiki katalog.
Menghubungi pelanggan lama.
Merapikan pembukuan.
Mencari supplier yang lebih baik.
Memperbaiki foto produk.
Membuat konten.
Mempelajari kebutuhan pasar.
Mencari produk baru.
Dengan begitu, ketika pelanggan mulai datang lagi, kita sudah lebih siap.
Penutup
Kalau hari ini dagangan Anda sedang sepi, jangan langsung mengatakan bahwa usaha Anda gagal.
Berhenti sebentar.
Lihat lagi siapa pelanggan Anda.
Periksa harga.
Perbaiki foto.
Evaluasi pelayanan.
Hubungi pelanggan lama.
Dan yang paling penting, terus belajar memahami kebutuhan pasar.
Tidak semua usaha yang sedang sepi harus ditutup.
Kadang usaha hanya membutuhkan cara baru untuk ditemukan, cara baru untuk menawarkan produk, atau sedikit perbaikan dalam melayani pelanggan.
Usaha kecil memang tidak selalu berjalan cepat.
Tetapi selama masih ada kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri, belum ada alasan untuk berhenti.




