Ada pemilik usaha yang hampir setiap hari berjualan.
Pagi sudah membuka toko.
Foto produk dibuat.
Status WhatsApp dipasang.
Pesanan dikirim.
Malam masih membalas chat pelanggan.
Kalau dilihat dari luar, usahanya terlihat berjalan.
Tetapi ketika ditanya:
“Usahanya berkembang?”
Jawabannya terkadang membuat kita terdiam.
“Ya begini-begini saja.”
Tidak tutup, tetapi juga tidak banyak berkembang.
Omzet ada, pelanggan ada, produk terus terjual. Namun setelah beberapa tahun, kondisinya masih kurang lebih sama.
Mengapa bisa begitu?
Ternyata rajin berjualan saja belum cukup untuk membuat sebuah usaha berkembang.
Ada beberapa hal penting yang sering terlewatkan oleh pelaku UMKM.
1. Terlalu Fokus pada Jualan, Tidak Sempat Memikirkan Usaha
Ini mungkin terdengar aneh.
Bukankah tugas pemilik usaha memang berjualan?
Benar.
Tetapi kalau setiap hari hanya sibuk melayani pesanan, mengambil barang, mengemas, mengantar, dan membalas WhatsApp, kapan kita punya waktu untuk melihat usaha secara keseluruhan?
Pemilik usaha akhirnya menjadi seperti karyawan di usahanya sendiri.
Semua pekerjaan dikerjakan sendiri.
Ketika tidak bekerja, penjualan berhenti.
Padahal suatu saat kita perlu mulai bertanya:
Produk mana yang paling menguntungkan?
Pelanggan seperti apa yang paling sering membeli?
Apa yang membuat pelanggan kembali?
Biaya apa yang terlalu besar?
Bagian mana yang sebenarnya bisa dibuat lebih efisien?
Pertanyaan seperti ini jarang muncul kalau kita terlalu sibuk dengan pekerjaan harian.
2. Omzet Besar Belum Tentu Membuat Usaha Sehat
Ini kesalahan yang cukup sering terjadi.
Misalnya dalam satu bulan penjualan mencapai:
Rp10 juta.
Pemilik usaha merasa senang.
Tetapi setelah dihitung:
Modal barang: Rp7 juta
Operasional: Rp1 juta
Kemasan dan pengiriman: Rp500 ribu
Biaya lainnya: Rp500 ribu
Yang tersisa hanya:
Rp1 juta.
Bahkan angka tersebut belum tentu seluruhnya bisa dianggap sebagai keuntungan yang boleh digunakan.
Karena sebagian mungkin masih diperlukan untuk mempertahankan modal usaha.
Itulah mengapa pelaku UMKM sebaiknya tidak hanya mencatat omzet.
Keuntungan harus diketahui.
Karena usaha yang omzetnya besar tetapi keuntungannya sangat kecil akan sulit berkembang.
3. Harga Jual Terlalu Murah karena Takut Kehilangan Pelanggan
Ada pemilik usaha yang selalu berpikir:
“Kalau saya naikkan harga, pelanggan nanti pergi.”
Akhirnya harga dipertahankan serendah mungkin.
Masalahnya, biaya usaha perlahan naik.
Harga bahan baku naik.
Transportasi naik.
Kemasan naik.
Biaya operasional naik.
Tetapi harga jual tidak berubah.
Lama-kelamaan margin keuntungan semakin tipis.
Harga murah boleh menjadi strategi.
Tetapi jangan sampai harga murah membuat usaha tidak punya ruang untuk berkembang.
Pelanggan yang baik bukan hanya mencari harga paling murah.
Mereka juga mencari kualitas dan pelayanan yang sepadan.
4. Semua Produk Dianggap Sama Penting
Coba lihat kembali produk yang dijual.
Mungkin ada 20 produk.
Tetapi apakah semuanya memberikan keuntungan yang sama?
Belum tentu.
Ada produk yang cepat terjual tetapi marginnya kecil.
Ada produk yang jarang terjual tetapi sekali terjual memberikan keuntungan cukup besar.
Ada juga produk yang hampir tidak pernah bergerak.
Kalau semua diperlakukan sama, modal bisa banyak tertahan pada barang yang sebenarnya kurang diminati.
Mulailah melihat produk berdasarkan data.
Mana yang laku?
Mana yang menguntungkan?
Mana yang sering dibeli kembali?
Dari situ kita bisa menentukan produk mana yang layak mendapatkan perhatian lebih besar.
5. Terlalu Bergantung pada Satu Sumber Pelanggan
Ini juga sering terjadi.
Misalnya seluruh pelanggan berasal dari WhatsApp.
Atau hanya dari satu marketplace.
Atau hanya dari pelanggan sekitar rumah.
Selama semuanya berjalan baik, tidak terasa sebagai masalah.
Tetapi ketika kondisi berubah, penjualan bisa langsung turun.
Karena itu, usaha sebaiknya perlahan membangun beberapa sumber pelanggan.
Misalnya:
- pelanggan sekitar,
- WhatsApp,
- media sosial,
- marketplace,
- Google,
- website,
- komunitas,
- dan rekomendasi pelanggan.
Tidak harus semuanya dilakukan sekaligus.
Yang penting usaha tidak sepenuhnya bergantung pada satu pintu.
6. Tidak Membangun Pelanggan Tetap
Mendapatkan pelanggan baru memang menyenangkan.
Tetapi jangan lupa dengan orang yang sudah pernah membeli.
Kalau seseorang pernah membeli produk kita dan merasa puas, sebenarnya kita sudah mempunyai sesuatu yang sangat berharga:
kepercayaan.
Sayangnya banyak UMKM hanya menghubungi pelanggan ketika ingin menjual.
Padahal hubungan dengan pelanggan bisa dibangun lebih baik.
Tanyakan kabarnya.
Berikan informasi yang bermanfaat.
Beritahu kalau ada produk baru yang memang relevan.
Minta masukan.
Jangan setiap kali menghubungi pelanggan langsung menawarkan barang.
Karena pelanggan juga manusia.
Mereka ingin diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar nomor transaksi.
7. Tidak Berani Mengubah Cara Lama
Ada kalimat yang sering terdengar:
“Dari dulu saya jualan seperti ini dan tetap laku.”
Tidak salah.
Tetapi kondisi pasar berubah.
Cara orang mencari informasi berubah.
Cara orang membeli berubah.
Pesaing berubah.
Teknologi berubah.
Dulu mungkin pelanggan datang ke toko.
Sekarang mereka bertanya lewat WhatsApp.
Dulu orang mencari alamat dari tetangga.
Sekarang mereka membuka Google Maps.
Dulu promosi mengandalkan spanduk.
Sekarang konten digital bisa mendatangkan pelanggan.
Bukan berarti cara lama harus dibuang.
Tetapi usaha perlu belajar menyesuaikan diri.
8. Media Sosial Hanya Digunakan untuk Jualan
Ini salah satu hal yang sering saya lihat pada akun UMKM.
Hampir semua posting berbunyi:
READY STOCK!
PROMO!
DISKON!
ORDER SEKARANG!
Sesekali tidak masalah.
Tetapi kalau seluruh konten seperti itu, orang akan merasa akun tersebut hanya ingin menjual sesuatu.
Padahal calon pelanggan membutuhkan informasi.
Kalau Anda menjual produk makanan, berikan tips seputar makanan.
Kalau menjual perlengkapan usaha, berikan panduan untuk pelaku usaha.
Kalau menjual pakaian, berikan tips perawatan atau pemilihan bahan.
Dengan begitu, akun bisnis memiliki alasan untuk diikuti bahkan ketika seseorang belum ingin membeli.
9. Tidak Mau Mencatat Kesalahan
Setiap usaha pasti pernah mengalami kesalahan.
Ada barang salah kirim.
Ada pelanggan komplain.
Ada stok menumpuk.
Ada produk yang ternyata tidak laku.
Ada promosi yang tidak menghasilkan penjualan.
Kesalahan tersebut jangan hanya dianggap sebagai kejadian buruk.
Catat.
Tanyakan:
Kenapa ini terjadi?
Apa yang bisa diperbaiki?
Bagaimana supaya tidak terulang?
Usaha yang berkembang bukan usaha yang tidak pernah salah.
Melainkan usaha yang belajar dari kesalahan yang terjadi.
10. Pemilik Usaha Tidak Pernah Berhenti Belajar
Dunia usaha berubah sangat cepat.
Hari ini cara promosi tertentu berhasil.
Beberapa bulan kemudian hasilnya mungkin berbeda.
Karena itu pemilik usaha perlu terus belajar.
Tidak harus mengikuti seminar mahal.
Bisa membaca artikel.
Melihat cara kompetitor bekerja.
Bertanya kepada pelanggan.
Mempelajari laporan penjualan.
Mencoba cara promosi baru.
Bahkan kegagalan dalam menjual juga bisa menjadi pelajaran.
Yang penting jangan merasa:
“Saya sudah tahu semuanya.”
Karena ketika pemilik usaha berhenti belajar, bisnis biasanya juga mulai berhenti berkembang.
Lalu Apa yang Harus Dilakukan?
Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus.
Justru lakukan sedikit demi sedikit.
Minggu pertama
Rapikan pencatatan keuangan.
Ketahui omzet dan keuntungan sebenarnya.
Minggu kedua
Lihat produk mana yang paling laku dan paling menguntungkan.
Minggu ketiga
Hubungi pelanggan lama dan minta masukan.
Minggu keempat
Coba satu cara promosi baru.
Kemudian lihat hasilnya.
Bulan berikutnya lakukan evaluasi lagi.
Dengan cara seperti ini, perubahan terasa lebih ringan.
Usaha Tidak Harus Langsung Besar
Ada pemilik usaha yang terlalu cepat membandingkan dirinya dengan bisnis yang sudah berjalan bertahun-tahun.
Melihat toko orang lain sudah besar.
Karyawannya banyak.
Gudangnya luas.
Pelanggan ribuan.
Kemudian merasa usaha sendiri tidak ada apa-apanya.
Padahal mereka mungkin sedang melihat hasil akhir dari perjalanan panjang orang lain.
Sementara dirinya baru memulai.
Tidak perlu seperti itu.
Yang lebih penting adalah melihat apakah usaha kita hari ini lebih baik daripada enam bulan lalu.
Apakah pelanggan bertambah?
Apakah keuntungan lebih sehat?
Apakah pencatatan lebih rapi?
Apakah pelayanan lebih baik?
Apakah kita lebih memahami pasar?
Kalau jawabannya iya, berarti sebenarnya usaha sedang berkembang.
Jangan Hanya Sibuk, Mulailah Bekerja dengan Arah
Rajin adalah modal yang sangat penting.
Tetapi rajin saja tidak cukup.
Usaha membutuhkan arah.
Kita harus tahu:
Apa yang dijual.
Untuk siapa.
Mengapa mereka membeli.
Berapa keuntungan sebenarnya.
Bagaimana mendapatkan pelanggan.
Bagaimana membuat mereka kembali.
Dan yang tidak kalah penting:
bagaimana membuat usaha tetap berjalan tanpa seluruh pekerjaan bergantung pada pemiliknya.
Di situlah perbedaan antara sekadar berjualan dan membangun bisnis mulai terlihat.
Penutup
Banyak UMKM sebenarnya bukan kekurangan kerja keras.
Mereka justru terlalu banyak bekerja.
Yang kurang adalah waktu untuk berhenti sejenak dan melihat usahanya dari luar.
Melihat angka.
Melihat pelanggan.
Melihat produk.
Melihat cara promosi.
Melihat apa yang sudah berhasil dan apa yang harus diperbaiki.
Karena usaha yang berkembang bukan selalu usaha yang paling ramai.
Kadang usaha berkembang secara perlahan:
pelanggannya bertambah sedikit demi sedikit, keuntungan semakin sehat, pencatatan semakin rapi, dan pemiliknya semakin memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan pasar.
Jadi kalau usaha Anda hari ini belum berkembang seperti yang diharapkan, jangan langsung menganggap semuanya gagal.
Mungkin bukan harus bekerja lebih keras.
Mungkin sudah waktunya bekerja dengan cara yang lebih terarah.




